Kondisi Gunung
Merapi kian kritis. bahaya akan terjadinya letusan mungkin sangatlah besar Hal itu ditandai dengan aktivitas vulkanik yang meningkat tajam, baik seismik maupun deformasi atau percepatan pertumbuhan kubah. Selain itu juga terjadi erupsi yang tidak lazim.
Menurut Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Drs Subandrio MSi, kondisi Merapi berubah sangat cepat dan menuju kritis letusan. Meski aktivitas gunung itu meningkat tajam, perubahan tersebut tidak disertai gejala yang tampak di permukaan.
Ia meminta pemerintah, swasta, dan masyarakat yang bermukim di sekitar Merapi agar merespons secara serius gejala tidak lazim tersebut.
Subandrio mengemukakan hal itu usai rapat koordinasi (rakor) penanggulangan ancaman bahaya Merapi di rumah dinas bupati Magelang, kemarin. Hadir dalam rakor itu, Bupati Magelang Ir H Singgih Sanyoto, Dandim Letkol Inf Ida Bagus Surya Widana, Kapolres AKBP Kif Aminanto, serta para camat di sekitar kawasan Merapi, antara lain Srumbung, Dukun, dan Sawangan.
Menurut Subandrio, gejala yang muncul saat ini mirip dengan tanda-tanda saat Merapi akan mengalami erupsi pada 1997. Frekuensi kegempaan meningkat. Gempa vulkanik dalam terjadi sampai 50 kali per hari, sedangkan gempa multiphase 479 kali. Energi gempa semakin kuat,sehingga getarannya dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Ia memperkirakan, perubahan itu sejalan dengan pembentukan kubah baru akibat gerakan magma di perut gunung yang kian mendekati puncak Merapi. Dari hasil pantauan, gerakan magma itu mengelompok di bagian timur laut dan barat daya.
Mengenai potensi ancaman longsoran material vulkanik di lereng Merapi, dia belum bisa memastikan arahnya. Menurut Subandrio, posisi cermin raksasa di sebelah utara dan barat bergeser belasan sentimeter. Di sisi selatan, dalam 1,5 bulan terakhir bergeser 1,5 meter.
Untuk itu, imbuhnya, pemerintah daerah yang memiliki wilayah di kawasan Merapi perlu mengambil berbagai langkah antisipatif terhadap ancaman letusan. Antara lain, terus mengintensifkan kesiapan evakuasi dan keperluan lain dalam upaya penyelamatan warga.
Terkait ancaman longsoran dan letusan tersebut, BPPTK Yogyakarta melarang warga melakukan aktivitas di 11 sungai di tiga kabupaten yang berhulu di Gunung Merapi. Larangan itu mulai berlaku Jumat (22/10) pukul 18.00 berbarengan dengan peningkatan status Merapi dari waspada menjadi siaga.
Seperti diketahui, BPPTK menaikkan status Merapi setelah terjadi peningkatan gempa vulkanik dan guguran lava. Merapi juga mengalami deformasi sebesar 16,4 cm per hari. Padahal deformasi sebelumnya hanya 8,5 cm per hari.
Ke-11 sungai tersebut adalah Kali Krasak, Kali Putih, Kali Lamat, Kali Senowo, dan Kali Apu di Kabupaten Magelang, kemudian Kali Gendol, dan Kali Kuning di Kabupaten Sleman, Kali Woro di Kabupaten Klaten serta Kali Bagong, Kali Pedak, dan Kali Trising di Kabupaten Boyolali.
Larangan itu berlaku mulai radius delapan kilometer dari puncak gunung. Jarak tersebut masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi. Kemarin, data aktivitas Gunung Merapi yang terekam di Pos Pengamatan Babadan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang kembali menunjukkan peningkatan. Mulai Kamis pukul 24.00 sampai Jumat pukul 24.00 tercatat 93 kali guguran material vulkanik, 321 gempa multiphase (gempa permukaan) dan 41 gempa vulkanik.
Sementara asap sulfatara berwarna putih tebal keluar dengan tekanan lemah setinggi 250 meter. Data tersebut merupakan data seismograf pada tanggal 21 Oktober selama 24 jam. Petugas Pos Pengamatan Babadan, Ismail mengatakan, pada Jumat pukul 24.00 hingga pukul 08.00 tercatat 15 kali guguran material vulkanik, 154 kali gempa multiphase, dan 14 kali gempa vulkanik.
"Status Gunung Merapi dinaikkan karena aktivitasnya naik cukup tinggi," kata Ismail.
Tak Terpengaruh
Meski BPPTK Yogyakarta sudah menaikkan status menjadi siaga, masyarakat yang tinggal di KRB III tidak terpengaruh. Hal itu antara lain terlihat di Desa Krinjing, Keningar, dan Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
Sejumlah warga masih melakukan aktivitas seperti hari biasa, di antaranya menggarap ladang, mencari rumput dan kayu, serta membuat arang di lereng gunung. Sejumlah penambang pasir juga masih bekerja.
"Saya lihat di televisi status Merapi memang sudah naik, namun kami merasa belum perlu mengungsi. Desa kami masih aman. Teman-teman juga masih pergi ke ladang menanam sayuran," kata Sutrisno, warga Desa Keningar.
Aktivitas penambang di Desa Keningar dan Mangunsoko (Kecamatan Dukun), serta Desa Mranggen dan Desa Kemiren (Kecamatan Srumbung) juga masih berlangsung. Sejumlah truk hilir mudik membawa pasir. Demikian pula penambangan di Kali Gendol. Ratusan truk menyusuri sungai kering untuk mencari lokasi yang pas untuk mengeruk pasir.
Pemandangan itu terlihat jelas di sepanjang Kali Gendol yang kaya material Merapi, mulai dari pasir halus hingga batu-batu besar. "Masih normal kok, tapi kalau hujan deras di atas cukup lama dan air mulai menggenangi sungai, kami harus keluar atau sejak awal tidak masuk mencari pasir," ujar Jono, penambang pasir dari Secang, Magelang, ketika ditanya
mengapa masih nekat menambang.
Rata-rata penambang mengaku sudah tahu status Merapi naik ke siaga, namun belum mendengar pemberitahuan atau larangan untuk menghentikan aktivitas. Selama belum ada wara-wara resmi berupa selebaran dari penjaga portal, mereka tetap akan mengais rezeki di tempat itu.
Lain lagi penambangan di Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto mengatakan, mulai Sabtu (23/10) pukul 04.00 pintu masuk ke lokasi penambangan ditutup. Tak boleh lagi ada aktivitas penambangan karena status Merapi sudah dinaikkan menjadi siaga. Dia minta penambang menyadari hal itu demi keselamatan mereka.
"Pukul 04.00 besok (Sabtu, 23/10) portal masuk ke lokasi penambangan kami tutup agar tak ada lagi aktivitas penambangan. Bahaya kalau sampai ada yang terjebak," tandasnya.
Selain meminta penutupan penambangan pasir, dia juga menyiapkan peralatan untuk pengungsian. Kemarin, desanya menerima bantuan peralatan untuk memasak, tenda, dan tikar untuk fasilitas pengungsi. Bantuan berasal dari Pemkab Sleman yang diserahkan bersamaan dengan datangnya Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu.
Menurut Heri, bantuan berupa peralatan sudah mencukupi, kecuali bahan-bahan makanan. Seperti tahun 2006, suplai bahan makanan akan datang ketika pengungsi sudah menempati lokasi. Peralatan untuk pengungsi sementara ini disimpan di belakang balai desa. Di samping memberikan bantuan peralatan pengungsi, Pemkab Sleman mulai memperbaiki jalur evakuasi.
jika anda berminat baca2 article yang bermanfaat bisa kunjungi blog saya yang satunya
Still marry me